Beranda | Artikel
Reformasi Besar-besaran di Saudi Arabia
Kamis, 19 Februari 2009

Terlalu berlebihan yang dapat kami katakan mengenai pemberitaan di Saudi Arabia saat ini. Berikut beritanya:

Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi, Sabtu (14/2), melakukan reformasi di negaranya. Dia membongkar kabinet pemerintahan, mengganti gubernur bank sentral, dan mengangkat perempuan pejabat pertama Noura al-Faez sebagai wakil menteri pendidikan. Raja Abdullah juga mengganti Kepala Dewan Mahkamah Agung, Sheikh Saleh al-Luhaidan, yang selama ini dituding menghalangi upaya reformasi. Selain perubahan di jajaran institusi agama, Raja Abdullah juga menunjuk pejabat baru di departemen pendidikan, kehakiman, penerangan, dan kesehatan. Perubahan terbesar ada di lembaga Dewan Syura. Ketua Dewan Syura Luhaidan, yang telah menjabat di posisi itu selama lebih dari 40 tahun, digantikan oleh Saleh bin Humaid. [Senin, 16 Februari 2009 | 00:31 WIB, kompas.com]

 

Dengan berita ini, sebagian orang akhirnya ingin memojokkan Saudi Arabia karena memang pada dasarnya sudah benci pada Saudi Arabia, di mana di sana tegak syariat Islam dan ajaran tauhid.

Kami cuma bisa berkomentar singkat:

1. Jangan terlalu berlebih-lebihan dalam mengeksplos berita.

2. Saudi aman-aman saja, di sana cuma ada pergantian jabatan dalam pemeritahan. Perlu diketahui bahwa Syaikh Luhaidan yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Dewan Syura diganti bukan dipejat. Beliau diganti setelah 40 tahun menjabat karena memang saat ini adalah masanya pensiun karena umur. Pahami hal ini. Jadi, kalau dikatakan dipecat tanpa hormat, ini keliru. Ya memang sekarang sudah saatnya beliau pensiun.

3. Memang ada jabatan baru untuk wakil menteri pendidikan yang mengurus pendidikan wanita, yaitu Noura al Faez. Beliau adalah wanita yang mengurus hal tersebut. Ingat, di sini yang diurus adalah wanita. Lalu apa yang salah [?] Ini bukan berarti Saudi mendukung wanita sebagai pemimpin. Wanita tersebut bukan menjabat sebagai menteri. Pahamilah hal ini! Lihat pembahasan kami mengenai pemimpin wanita di blog ini. Klik di sini. Kami pun mengirim pesan singkat (sms) pada Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Islam Madinah dan beliau tentu saja lebih mengetahui kondisi Saudi yang sebenarnya daripada kita. Kami menanyakan lewat sms yang kami kirim pada shubuh hari, 23 Shofar 1430 H, mengenai Syaikh Al Luhaidan dan pejabat wanita tadi. Ustadz Arifin membalas sms tersebut:

Saudi aman-aman saja, hanya ada pergantian pejabat saja. Di antaranya Syaikh Luhaidan yang dipensiun karena umur. Ada juga jabatan baru wakil menteri pendidikan untuk urusan pendidikan wanita yang dijabat oleh wanita.

 

Semoga para pembaca jelas mengenai hal ini. Jadi, pergantian pejabat di atas bukanlah alasan untuk mencela dan memojokkan Saudi Arabia sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh Hizbut Tahrir dan beberapa media. Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Yogyakarta, 23 Shofar 1430 H

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

 

Baca Juga:


Artikel asli: https://rumaysho.com/212-reformasi-besar-besaran-di-saudi-arabia.html